Akupun tak paham

LEMBAYUNG BUNGA TULIP


Aku membaca kisah-kisah para kekasih siang dan malam
Sekarang, aku menjadi kisah dalam cintaku kepada-Mu…
***


Cinta adalah cahaya purba yang dahsyat,
Di hadapan mereka yang terpilih
Walau begitu, bagi orang biasa terlihat wujud
Lahir dan berahi jasmani.
Kalau mengenai Cinta, aku harus berdiam diri
Melukis Cinta, nalar seperti keledai rawa.
Penaku patah kalau harus melukis cinta.
***
Kalau kau tak kenal cinta, tanyalah malam
Tanyalah pipi pucat dan bibir kering!
Hanya permulaan dari Cinta---
Tak ada yang mencapai akhirnya.
***
Lalu, pada suatu malam aku bertanya kepada Cinta:
“Katakan dengan jujur siapakah Kau sebenarnya?”
Ia menjawab: “Aku hidup abadi, aku ulang-ulang kehidupan indah ini.”
Aku berkata kepadanya: “Wahai Kau yang berada di luar semua tempat, dimanakah rumah-Mu?”
Ia berkata: “Aku ada bersama dengan api hati dan di samping mata yang basah;
Aku adalah pencelup; karena akulah pipi-pipi menjadi berwarna lembayung;
Aku adalah pembawa pesan yang cepat, para kekasih adalah kuda-kuda kurusku.
Aku warna lembayung bunga tulip, nilainya sebagai barang dagangan.
Aku adalah manisnya rajukan, aku pembuka tabir dari semua yang ditabiri…
Wahai Cinta, manakah yang lebih serasi, Kau atau tamanmu dan kebun apelmu?

----Jalaluddin Rumi
----Tasawuf Underground

Share this

Related Posts

First
Powered By Blogger