Secuplik Part 18

Aya Afza
4 Januari pukul 9:52 ·

*flash_back, Keiko...
Kesibukan yang diambil Keiko cukup menyita waktu senggangnya untuk beristirahat. Kei tak ingat kapan kali terakhir ia bisa tidur nyenyak, tubuhnya terasa luar biasa letih. Ia benar-benar harus istirahat.
Siang ini seusai kelas pertama, waktu telah menjelang siang dan matahari bersinar terik. Kei melangkah keluar pintu campus, sinar matahari menyilaukan matanya. Kei berjalan lebih cepat sambil mengerjapkan mata. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti.
Ia melihat seseorang. Seorang harajuku yang beberapa hari ini selalu berusaha mengisi kekosongan di hari-harinya. Lelaki itu kembali hadir dalam jarak pandangnya.



Hajime. Ia ingat betapa Rin berusaha membuatnya percaya bahwa Hajime adalah lelaki terbaik yang akan menjaganya. Ia ingat semua usaha Rin yang menginginkan dirinya melupakan Ken yang ia sendiri pun enggan untuk melupakannya. Ia ingat pertemuan pertamanya, di sudut kafe bergaya eropa di situlah, kali pertama Hajime menyapanya.
Dari kejauhan, lelaki borjuis yang selalu tampil apa adanya itu berjalan melintasi rerumputan ke arah gedung, tampak terburu-buru. Dan ketika jarak di antara keduanya semakin dekat. Kei sedikit jengah ketika lelaki yang berusaha dihindarinya itu secara tak terduga menahan langkah kakinya. Hajime telah berhenti di hadapannya.
"Keiko ...." Senyumnya tersungging ramah tanpa paksa. Sesekali dibebahinya letak frame kaca mata hitam yang membingkai di wajah tampannya itu. Kei membalas senyumannya, canggung. Hambar.
"Ada waktu senggang?"
Baru saja Kei hendak menjawab pertanyaan Hajime dengan mengatakan "Aku sibuk" namun ternyata kedatangan Rin yang tak terduga mengacaukan rencananya. "Oh .... Kei pasti selalu memiliki waktu untukmu Hajime, bukankah begitu cantik ...,"
"Egh, mungkin"
"Bagus," Hajime tersenyum lebar sedang Kei berusaha menyembunyikan kekesalannya pada kekonyolan Rin yang perlahan menyikut lengan Kei yang tertunduk dalam diamnya.
"Taman kota, jam 3" Ucapan terakhir Hajime sebelum beranjak pergi dari hadapan Kei dan Rin yang tentu saja senang karena usahanya mendekatkan Hajime dengan Kei pasti akan berjalan lancar.
Sore yang tak pernah ingin dijamahnya. Tanpa polesan di wajahnya, Kei tampil seadanya. Satu stel kemeja cream bercorak garis dan celana levis terasa cukup untuknya, ia tak ingin tampil istimewa selain di hadapan Kenshin seorang.
Pepohonan sakura berjajar di sepanjang jalanan taman. Keduanya berjalan beriringan persis ketika Ken mengajaknya berjalan-jalan, lelaki itu selalu berusaha mengimbangi langkahnya dengan langkah Kei. Sama seperti Hajime, Kei selalu menghindar namun Hajime selalu mengikuti kemana pun ia pergi. Canggung menguasai keduanya, namun Hajime selalu berusaha mencairkan suasana, entah dengan cerita, candaan ringan yang cukup menghibur Kei. Dan Kei menghargainya bukan sebagai kekasih namun sebagai sahabat yang berusaha menghapus lukanya.
Hingga tiba satu Sore, saat Hajime tengah menyelesaikan tugasnya, pintu apartemennya diketuk. Hajime berjalan menuju pintu dan melihat dari lubang kecil. Ia terkejut saat mendapati Kei di situ.
"Hai, Kei," sapa Hajime sambil tersenyum saat membuka pintu. "Masuklah."
"Terimakasih, aku hanya sebentar saja," kata Kei "Aku ingin memberimu sesuatu"
"Oh, ya?" Hajime tampak senang.
"Ini." Kei mengeluarkan sebuah cincin dari tasnya.
"Kukembalikan. Aku tak berhak menerimanya."
Wajah Hajime yang berseri saat itu juga langsung berubah. Senyumnya hilang dan sinar matanya meredup. Hajime menegakkan tubuh sehingga memperlihatkan dengan jelas bahwa ia dengan Kei memiliki perbedaan tinggi yang cukup jauh.
"Apa maksudmu? Aku memberikannya untukmu"
Cincin berlian itu adalah hadiah yang Hajime berikan beberapa hari yang lalu. Baru beberapa hari dan sekarang Kei akan mengembalikannya, bahkan ia pun tak pernah melihat Kei memakai cincin itu meski hanya sekedar menyenangkan hatinya.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya, Hajime," ujar Kei.
"Oh, ya, bagus sekali. Kenapa tidak kau buang saja?" Jawab Hajime kesal.
Kei menghela napas. Ia sadar karena ia hanya menganggap Hajime sebagai teman kalau pun lebih Hajime hanya sebagai sahabat untuknya, dan ia merasa sungkan dengan pemberian yang sangat berlebihan ini. "Hajime ...."
"Aku tahu, kau mungkin tidak pernah menyukaiku. Tetapi, aku memberi ini tulus tanpa maksud menginginkan sesuatu sebagai balasan, karena aku memang tak sama dengan ...."
"Dengan siapa?" Kei menelan ludah.
"Dengan Kenshin" Si_pengacau itu .... Hajime mengutuk dalam hati.
"Hajime, kuharap dengan mengembalikan cincin ini kau akan mengerti bahwa perasaanku takkan berubah. Mungkin dengan begitu kau akan melanjutkan hidupmu dan melupakanku."
"Aku sedang melanjutkan hidupku, Kei," Hajime memberi jeda pada ucapannya
"Aku tidak berharap dapat memilikimu. Tidakkah kau mengerti? Kaulah yang selama ini menggangguku."
"Aku??" Kei mengernyitkan dahi.
"Ya, kau mengganggu pikiranku siang dan malam. Aku sulit tidur sejak mengalami perasaan ini."
"Omong kosong!" Cetus Keiko.
"Ah, jalannya cinta memang tak selamanya mulus."
"Hajime, jangan membawa nama Cinta karena itu sangat berat."
Hajime tersenyum.
"Simpanlah, jangan kau hinakan diriku dengan mengembalikan pemberian ini. Biarkanlah ia usang karena waktu, bukan karena perasaan hatimu. Anggap saja sebagai tanda persahabatan kita." Kei menatap Hajime dengan tatapan kagum yang terasa ganjil. Ia tampak bimbang.
"Baiklah,"
"Sungguh?" Hajime tersenyum lebar mendengarnya, wajahnya kembali berseri seketika.
"Ya, kupikir begitu" Kei mencibir sembari kembali meemasukkan cincin berlian itu ke dalam tasnya. "Aku harus pulang,"
"Hei, apa kau tidak ingin mampir sebentar, sekedar merasakan teh hijau keluaran terbaru,"
"Tidak, terimakasih. Aku masih memiliki banyak tugas."
"Oh, baiklah." Hajime merasa sangat kecewa dengan keputusan Kei, namun ia tetap berusaha menyembunyikan kekecewaannya melalui senyum sumringahnya.
"Ya, sampai jumpa di campus Hajime." Ujar Keiko sebelum berlalu dari apartemen Hajime, lelaki itu tersenyum kecut. Ada segores luka yang terasa perih di hatinya. Yah, tak seharusnya ia mencintai Keiko. Kei milik Ken, semua orang yang kenal keduanya pun mengerti jika Kei takkan berhenti mengharapkan Ken. Sama dengan Ken yang selalu ada bersama Kei meski Kei sempat melupakan memori tentang Ken dari ingatannya.
"Mungkin lebih baik, Mencintaimu dalam diamku" bisik Hajime, berusaha berdamai dengan perasaannya yang terluka.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Powered By Blogger