Secuplik Part 16

Aya Afza
1 Januari pukul 22:21 ·

Pada Minggu itu hujan mengguyur Kobe. Cuaca yang tak dapat diperkirakan. Kei duduk manis di depan meja makan apatermen minimalisnya. Ia mengingat pertemuan terakhirnya dengan Kenshin beberapa bulan yang lalu. Hari-hari terasa kering dan panjang, di tengah musim dingin yang juga mematikan impian-impian, Kei mencoba mengalihkan perhatiannya pada schendule kelasnya yang cukup padat. Ia memaksa diri untuk menghabiskan waktu di kampus dan menghindari ajakan bersenang-senang. Ia akan membatasi perbincangan dan memilih untuk beringsut duduk sendiri di pojok kedai minuman dengan tatapan kosong.

Terkadang ia bertemu dengan Rin, sejenak berbicara ringan dengannya seolah melupakan masalah yang ada. Keiko menggeleng. Kenshin telah menjadi sebongkah imaji di luar sana, tak tergapai, terkunci di suatu tempat. Entahlah apakah ia dapat menemukan kunci yang tepat untuk membuka tabir yang menyingkap, atau akan tetap sama. Menyesali kenaifannya karena melupakan seseorang yang ikut berperan penting dalam hidupnya. Hayalannya menari mengikuti irama jemari di atas keyboard laptop. Pikirannya bergerak mengikuti curah hujan yang hampir reda, menuliskan sesuatu tentang rasa.
*****
Dear Kenshin....
Aku terkenang akan nama dan wajahmu, terkenang hujan yang kau ceritakan dulu.
Tahukah aku menyimpan sedih yang sama, diwakili hujan tangisku pecah tak tertahankan. Kunjunganmu pada ingatanku meninggalkan sayatan luka yang mendalam. Maaf aku baru mengingatnya, mengingatnya kala hujan tak lagi bermakna begitu kucari warna di balik kelabu. Satu hingga berpuluh detik. Menit menjadikannya terasa lebih lama.
Ternyata, hujan turun tanpa pelangi. Filosofi mengatakan tentang hujan dan pelangi, untuk melihat keindahan pelangi kita harus siap menghadapi hujan lebih dulu. Untuk setiap kebahagiaan, ada pengorbanan yang harus dibayar.
Lalu bagaimana dengan cerita kita?
Akankah hanya sebatas hujan tanpa makna? Setidaknya kita pernah melukiskan warna pelangi pada hujan kita. Ah, mungkin aku terlalu mengada-ngada .... Bahkan email-email ini pun sedikit pun tak pernah mendapat balasannya. Mungkin saja diriku sama seperti mereka, berharap pada balasan yang mustahil adanya. Bahkan aku pun juga tak pernah tahu, apakah oksigen bumi masih dapat kau hirup di negri sana.
Maaf, aku baru mengingat kepingan puzzel yang sempat tersisih di antara kita ....
_aku Kei,
Sedang di luar sana, langit menceritakan rasa yang berbeda. Ada sebaris lengkungan mejikuhibiniu melukis indah di atas sana.
Akan samakah ceritanya ? Atau malah sebaliknya ?
#tears_are_falling

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Powered By Blogger