Secuplik Part 11

Aya Afza
5 Desember 2016

Kenshin, lelaki itu tak pernah merasa malang seperti saat ini. Di samping tubuh Kei yang tak kunjung siuman Ken sibuk melipat beberapa kertas origami menjadi burung-burung kertas. Mau tak mau Ken harus mempercayai mitos yang sering ia dengar dari orang-orang Jepang zaman dahulu. Tentang 100 burung kertas yang mampu mengabulkan permintaan. Harapan yang ia semat hanya satu, tak lain adalah untuk kesadaran Keiko. Sesekali dipandanginya wajah pucat Kei yang sebagian tertutupi oleh respirator. Atau sekedar mengusap rambut Kei dengan penuh kasih sayang. Terkadang beberapa kata ia bisikkan pada telinga Kei dengan harapan Kei mendengarnya. "Saranghae Keiko ...."
Atau... "Akh...." Lagi-lagi ia teringat pada kejadian kemarin sore, tentang kelicikan Rin, sandiwara konyolnya dan tentang ....

Ia teringat pada surat yang diberikan oleh Rin sebelum ia meninggalkan ruangan.
"Aku salah, ketulusan Kei sangatlah nyata untukmu" Sepucuk surat beramplop biru sama dengan surat yang kemarin didapatkannya dari tangan Kei pada saat kecelakaan di sodorkan oleh Rin.
Ken masih terdiam, bingung dengan apa yang akan dilakukan teman dekat Kei itu.
"Kupikir ..., ada baiknya kau tahu isi hati Kei yang terpaksa ia sembunyikan karna keegoisanku. Ini surat pertama yang ia buat sebelum aku datang dan memintanya untuk merubah isi surat"
Ken masih tak mengerti. Dengan ragu diterimanya amplop tersebut dari tangan Rin, dan setelah itu, gadis itu berlari membawa isak tangis pilu penuh penyesalan.
** **
To Ken from Kei
Dapat mengenalmu aku bahagia, senang rasanya setiap ketenangan itu merasuk ke dalam tubuhku. Menjadi energi pemicu semangatku untuk tetap bertahan di sini. Di duniaku di sisimu .... Keindahanmu tak membutuhkan perumpamaan. Seumpama matahari tak membutuhkan hiasan. Jauh jarak darimu menyengsarakan jiwaku. Kepergianmu merupakan kuburan bagiku. Dan kehilanganmu adalah kematian untukku. Bersamamu aku mengenal cinta. Mencecap manisnya pada kali pertama. Sorot matamu penghilang dahaga akan kesendirian kenaifan yang membutuhkan tempat untuk berbagi rasa. Aku damai, aku tenang .... Terlalu tenang hingga tak sadar bahwa apa yang kulakukan telah menggoreskan luka di hati seseorang. Tak pernah sedetik pun aku berpikir untuk mengubah perasaan ini. Mimpi buruk yang selalu membayangi memaksaku untuk berbuat semua ini. Aku sayang, aku cinta, tapi aku takut kehilangan. Rin adalah salah satu alasan yang buatku bertahan dalam sepi. Dan mustahil pula aku akan menghianati janji pertemanan kita hanya karena cinta. Ken .... Maaf sebaiknya kita harus mengakhiri semua ini. Hapus hubungan yang menurutmu sangat istimewa di antara kita. Lupakan semua hal tentang rasa yang sempat singgah di hati kita. Lebih baik kita berteman saja.
Aku ingat tentang ucapanmu, aku ingat akan bualan-bualan konyolmu yang selalu mendengung menamani waktuku. Aku ingat pada rasa yang turun seperti hujan. Jika rasamu seperti itu maka aku akan melebihinya ibarat rasaku seperti air terjun yang tak tau kapan akan berhentinya. Aku ingat akan burung yang menjaga sangkarnya. Terbang kemana pun yang ia suka mencari satu tempat terbaik untuk sarangnya. Jika cintamu kau ibaratkan sebagai burung aku akan lebih dari itu. Ibarat anjing, ia akan tetap setia pada tuannya meski tuannya mencampakkannya. Heh... Perumpamaan yang sangat konyol. Aku tak padai membual seperti dirimu, namun jika kau bertanya sejak kapan kau bisa membual maka jawabnya "semenjak aku mengenalmu"
Ah.... Lupakan saja. Anggap saja kita hanya teman. Dan tentang rasa ini anggap saja ia hanya sebuah asap yang perlahan hilang dalam udara.
-Keiko Ayomo-
*****
"Kei ...." Berulang kali Ken memutar pandangannya melihat Kei yang belum sadarkan diri dan melihat surat yang baru saja ia baca. Surat pertama Kei yang sangat bertentangan dengan surat kedua. Bagaimana tidak, di surat kedua Kei terlalu menyudutkannya untuk menerima Rin sebagai kekasihnya. Sedangkan pada surat pertama ....
"Ah ...."
Lagi dan lagi Ken terjebak pada dilema cinta.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Powered By Blogger